Selasa, 12 Juli 2016

Berburu (Kebaikan) di Bulan Ramadan

Berburu (Kebaikan) di Bulan Ramadan

Sesungguhnya, Ramadan merupakan bulan untuk melatih diri dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar. Menahan diri dan perilaku supaya tidak terjerumus ke dalam perbuatan terlarang adalah tujuan puasa. Di bulan ini, semua perbuatan baik dilipatgandakan pahalanya berpuluh kali (bahkan tidur pun dinilai sebagai ibadah). Tidak ketinggalan, dosa seluas langit dan sedalam bumi pun konon dihapus bila kita berpuasa dengan penuh keimanan dan hanya mengharap rida Allah swt semata.
Tidak hanya menahan makan dan minum, berpuasa merupakan ibadah menyeluruh lahir dan batin, hati dan pikiran, raga dan sukma. Termasuk keinginan-keinginan yang akan membatalkan puasa ataupun pahala puasa itu sendiri. Sebagaimana dalam hadis qudsi, "Puasa hanyalah untuk-Ku dan Akulah sendirilah yang akan memberikan ganjaran padanya."
Di dalam bulan Ramadan itu dibagi menjadi tiga bagian, demikian bunyi dalam sebuah hadis. Sepuluh hari pertama merupakan hari-hari dibukakannya pintu rahmat. Sepuluh hari kedua disebut hari pengampunan (maghfirah). Sedangkan sepuluh hari terakhir adalah hari-hari dijauhkannya dari pintu neraka.
Tatkala telah masuk sepertiga terakhir Ramadan, junjungan kita, Muhammad SAW, juga dalam sebuah hadis, konon kian mengencangkan ikat pinggangnya dan semakin meningkatkan kualitas ibadah pada hari-hari itu. Taqarub kepada Allah SWT dan beriktikaf dengan mengajak seluruh anggota keluarganya. Sebab, ia tahu, bahwa bulan yang istimewa itu akan meninggalkannya dan umatnya.
Tentu, sebagai seorang abid dan kekasih yang rindu kepada Allah, kita, terlebih beliau, bersedih. Seandainya umatku tahu rahasia dan keutamaan di dalam bulan Ramadan--begitu kata Rasulullah--tentu mereka ingin sepanjang tahun dijadikan bulan Ramadan seluruhnya.
Akan tetapi, kita memang umat yang tak memahami rahasia itu. Atau, barangkali, kita memang termasuk umat yang bandel. Sudah menjadi tradisi--entah sejak kapan--menjelang Hari Raya, yakni sepuluh hari terakhir Ramadan, kita justru disibukkan dengan berbagai macam pikiran dan keinginan duniawi menyongsong hari nan fitri itu. Di sepanjang jalan, kita menyaksikan kesibukan orang-orang berburu berupa-neka kebutuhan rumahtangga, baik berupa sandang, pangan, bahkan hal-hal yang membuat "ikat pinggang" kita kencang, bahkan kalap. Di pasar, di pusat perbelanjaan, di warung, di bank, di manapun itu, seolah-olah kita berlomba-lomba bergegas memperbagus diri dengan busana baru, gawai baru, jajanan baru, furnitur baru, kendaraan baru, dan abai pada bagaimana kita meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah sebelum kita benar-benar ditinggalkan bulan Ramadan. Seolah Ramadan hanya menjadi pengungkung lapar dan haus semata dan Idulfitri adalah momentum pelepas nafsu yang telah dikurung sebulan penuh.
Memang sudah menjadi identitas, bahkan simbol, bahwa Hari Raya cerminan orang-orang yang suci dan bersih sebagaimana bayi yang baru lahir. Puasa sebulan penuh seperti merontokkan seluruh dosa kita seolah kita menjadi manusia yang baru, manusia yang fitrah, manusia yang tanpa noda. Akan tetapi, baju baru dan segala hal baru yang kita kenakan usai Ramadan tidaklah menjamin bahwa kita telah bersih dan suci seutuhnya. Justru di balik itu, sesudah Ramadan, kita semakin dituntut bertanggung jawab atas apa-apa yang telah kita perbuat dan raih sehingga bulan-bulan selanjutnya kita semakin baik dengan melanggengkan amalan-amalan baik di bulan Ramadan.
Inilah ujian kita. Menjaga hal yang baik tentu lebih berat ketimbang berupaya menuju hal yang baik. Tetap pada koridor kebaikan membutuhkan kekuatan yang jauh lebih besar dan daya yang tidak sedikit. Dan Ramadan, adalah tempat menempa segala kebaikan agar sesudah itu kita benar-benar menjadi manusia yang fitri, manusia yang tamam.
Terlepas apakah tahun depan kita berjumpa lagi dengan bulan Ramadan, seyogyanya di sisa bulan puasa ini, kita senantiasa "bertarung habis-habisan" dalam beribadah. Memperbanyak amal baik, bersedekah dan menginfakkan harta kita di jalan Allah, menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim, dan menyambung tali silaturahmi kepada sanak, kerabat, dan kawan sejawat, serta mohon ampun kepada Allah dengan sungguh-sungguh atas segala dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan dan (mungkin tanpa sengaja) kelak kita lakukan. Sungguh kita berharap menjadi mukmin dan muslim yang muttaqin dan memperoleh kemenangan sesungguhnya dari-Nya.
Kurang dari satu minggu Ramadan akan berlalu. Masih ada kesempatan meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita sebelum datangnya Hari Kemenangan. Apalagi, berburu lailatul qadar masih terbuka lebar bagi siapapun yang menginginkannya. (*)

2016

Ramadan dan Festival Makan dan Minum

Ramadan dan Festival Makan dan Minum

Jika Anda berkunjung ke kota Jombang kala sore di bulan Ramadan, sempatkanlah melewati Jalan Presiden KH Abdurrahman Wahid, tepatnya di selatan stadion. Di situ Anda temui beraneka pedagang takjil (yang berat maupun ringan) dan kemacetan yang barangkali dianggap wajar. Konon, itulah yang disebut Pasar Ramadan. Semacam wisata kuliner (menurut istilah kekinian) yang telah dilegalkan dan menjadi ikon tahunan sedari beberapa tahun silam.
Barangkali tidak hanya di situ. Di beberapa tempat (masih di wilayah Jombang) juga terdapat "pasar" serupa yang tentu saja menjual takjil serupa. Pun di luar sana, di kota-kota lain. Geliat ekonomi di Bulan Suci begitu hidup seolah inilah yang disebut bulan penuh berkah.
Kita patut bersyukur bahwa Tuhan Seru Sekalian Alam menganugerahi Ramadan kepada hamba-Nya. Ialah bulan di mana segala kebajikan dilipatgandakan dan semua keburukan dihapus dengan mudah. Ia merupakan festival ibadah yang menakjubkan, yang tak pernah Allah berikan kepada umat sebelum kita.
Lantas, sampai di situkah?
Tidak. Lebih dari itu. Kenyataannya, kita disuguhi berupa-neka hidangan mata melalui televisi. Program acara kuliner tak luput dari pandangan, seolah mereka menegaskan bahwa, "kami tidak berpuasa"; atau "sila berbuka dengan kami magrib nanti"; atau, paling tidak, "puasa memang menahan nafsu makan dan minum tapi tidak mengapa melihat kami makan". Demikian kira-kira definisi acara tersebut.
Setali tiga uang, semarak iklan mengusung produk makanan, minuman, tempat makan dan minum, atau semacam itu kian tak terbantahkan. Puasa, seolah-olah, hanya milik kita sebagai penonton, sedangkan mereka gencar mengiming-imingi produk makanan dan minuman (dengan dalih) untuk berbuka. Banyaknya slot iklan demikian sungguh membikir gusar (sebagian) penonton yang menginginkan hidangan rohani seperti tausiah atau ceramah agama. Keinginan memperoleh kebajikan melalui tayangan yang bermutu teralihkan oleh gencarnya iklan yang justru mengundang nafsu makan dan minum. Bahkan, terang-terangan di siang-bolong mempertunjukkan makan dan minum (dengan beragam model dan aksi menggiurkan). Seolah, mereka sedang menghadapi penonton yang sedang kelaparan, berpuasa secara lahiriah. Sungguh.
Memang, hal demikian tidaklah perlu kita perdebatkan selagi kita tidak terpengaruh tayangan dan iklan kuliner semacam itu. Namun, alangkah tidak elok bila kita berkaca pada peristiwa Bu Saeni beberapa hari lalu. Kita semua tahu bagaimana kronologinya, hingga mengundang pembelaan maupun hujatan di kalangan netizen (sampai membawa-bawa nama kemanusiaan dan HAM). Betapa ironi sekaligus menggelikan bila sebuah warteg saja diperlakukan semacam itu oleh Satpol PP, lantas bagaimana dengan iklan-iklan dan tayangan kuliner yang (hampir) setiap menit nampang di televisi? Maukah para abdi negara itu bertindak sama dengan yang dilakukan terhadap Bu Saeni, bilamana iklan dan acara tersebut mengatasnamakan kemanusiaan dan HAM (Hak Asasi Makan-Minum)? Benarkah kita telah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan jika iklan dan acara TV itu benar-benar menghormati orang-orang yang berpuasa?
Saling menghormati adalah kunci utama rasa kemanusiaan itu. Kita tidak dapat disebut manusia seutuhnya bila tidak saling menghormati. Menghormati dan dihormati. Begitu tata aturan kehidupan yang berlaku agar tidak timbul syak wasangka sesama manusia. Tidaklah usah kita mencari penghormatan dari orang lain jika kita sendiri tidak ma(mp)u menghormati orang lain. Menghormati ibadahnya, menghormati pekerjaannya, menghormati tindak-tanduknya, menghormati pendiriannya, menghormati kepribadiannya. Sebab sejatinya, menghormati orang lain sama dengan menghormati diri kita sendiri, menjunjung kemanusiaan, merekatkan toleransi, dan meninggikan peradaban. Bukankah telah menjadi trending topic bila persoalan dan isu semacam itu begitu sensitif di tengah masyarakat kita yang kian peka dan sempit?
Berlomba-lomba dalam beribadah di bulan Ramadan sepatutnya menjadi momentum mengekang hawa dan nafsu lahir dan batin. Menjaga diri dari keinginan-keinginan berlebih. Mengontrol perilaku dari perbuatan keji dan mungkar. Melawan syahwat yang mendekatkan diri pada jalan setan. Dan, puasa adalah upaya membentengi diri sehingga seusai Ramadan kita siap dan sanggup menghadapi godaan-godaan yang jauh lebih kuat, jauh lebih hebat, jauh lebih jauh.
Ah, azan magrib masih beberapa jam lagi. Para pedagang di tepi trotoar telah menggelar beraneka macam takjil untuk berbuka. Matahari masih tinggi dan asar belum tiba. Namun para pembeli telah berduyun-duyun mengerubungi setitik kebahagiaan di antara guyuran kebahagiaan ketika berjumpa Penciptanya kelak, sebagaimana yang dirisalahkan oleh Junjungan kita. Mengutip jargon sebuah iklan, "Sambut kemenangan sebelum datangnya Hari Kemenangan". (*)

2016

Ramadan dan Upaya Memperbaiki Diri

Ramadan dan Upaya Memperbaiki Diri

Bulan Ramadan datang kembali. Bulan yang penuh berkah, rahmat, ampunan, dan kasih sayang, tentu saja. Bulan yang selalu dinantikan seluruh umat Muslim di berbagai belahan dunia. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, persoalan klasik senantiasa hadir dan melulu diperbincangkan. Sebut saja soal sweaping, kenaikan harga sembako dan daging, dan hal-hal lain yang tentu jamak diketahui (dan biasa terjadi). Memang, hal demikian tidak dapat langsung dipersalahkan, atau justru dibenarkan di sisi lain. Sebagaimana dalam hadis qudsi, bahwa puasa adalah ibadah untuk-Ku. Dengan demikian, puasa merupakan bentuk ibadah personal-vertikal langsung kepada Allah. Jadi, apapun yang berhubungan dengan pahala puasa dan bagaimana seorang muslim menjalaninya, maka hanya ia sendiri yang tahu, bukan orang lain.
Terlepas dari itu, ada-ada saja persoalan-persoalan yang (kebetulan) datang guna menguji sejauh mana kita mampu menghadapi dengan sabar dan ikhlas. Apakah kita mampu menaklukannya atau justru terpuruk di dalamnya. Demikian pula yang terjadi pada Ramadan tahun ini, seolah menegaskan bahwa kita tidak bisa menjalani ibadah dengan tamam. Mahalnya harga daging sapi yang tembus hingga angka Rp 130.000, upaya pemerintah merasionalisasi satu juta pegawai negeri (yang tahun ini bahkan mendapat tambahan gaji ke-14), peristiwa 1965 yang tak kunjung menemui titik temu, pelunasan Lapindo yang tak kunjung tuntas bahkan lewat satu dasawarsa (dan berganti presiden), kasus korupsi yang seolah tak pernah berpuasa dan perkara yang diperjualbelikan di meja Mahkamah Agung, hingga penggusuran di ibukota yang berbau pelanggaran HAM dengan dalih penertiban, dan lain sebagainya.
Tentu peristiwa-peristiwa tersebut (secara tidak langsung) memengaruhi kualitas ibadah puasa kita. Bayangkan, berita-berita tersebut silih-berganti dan menjadi santapan berbuka dan sahur. Kita bahkan tak menemukan hidangan yang mampu membuat kita berpikir dan berprasangka positif. Semua dijejalkan begitu saja dan mengalir bagai aliran sungai yang keruh, seolah tiada yang peduli atau turut memberi solusi, atau paling tidak menjernihkan hiruk-pikuk tersebut.
Beruntung, kita tidak disuguhi perbedaan awal puasa yang dipelopori oleh dua ormas Islam terbesar di negeri ini (meski masih saja ada beberapa ormas di beberapa daerah yang mendahului bahkan membelakangi). Penetapan kalender Hijriah secara internasional perlu ditetapkan sesegera mungkin supaya umat Islam tidak melulu dibingungkan soal awal atau akhir bulan penanggalan kamariah (bahkan was-was). Upaya yang telah digodok beberapa tahun lalu ini perlu sesegera mungkin diselesaikan agar jangan berlarut-larut dan menjadi perpecahan umat. Meski tentu banyak hal yang mesti dipertimbangkan, baik mengenai metode, dasar dalil, maupun hal-hal lain bersifat teknis.
Lebih jauh lagi, hendaknya Ramadan ini kita jadikan momentum instropeksi diri. Mengekang diri dari perbuatan buruk dan dilarang agama serta memperbanyak beribadah dan berbuat baik bagi sesama dan negara. Inilah saatnya nilai-nilai kemanusiaan kita ditempa sedemikian rupa dan daya tahan kita diuji. Tentu, dalam perjalanannya terdapat kekhilafan yang tak bisa dihindari, namun bukan berarti tidak dapat dihindari. Keyakinan dan kepercayaan dirilah yang mampu membuat kita mampu melaluinya dengan tawakal, sebab jalan ikhtiar masih terbuka bagi mereka yang mau dan menginginkan kemenangan di pengujung Ramadan. Bukankah kemenangan tidak mudah diraih begitu saja?
Dan puasa sebagai media melatih diri akan semakin memperkuat keimanan dan kerja keras kita bila dilakukan dengan sabar dan ikhlas. Bila kita mampu menghadapi berbagai persoalan di bulan ini tentu seusai Ramadan kita mampu menghadapi persoalan-persoalan yang tentu lebih berat dan menemukan jalan keluar yang baik, baik bagi diri sendiri maupun bagi sesama. Bukankah telah dikatakan bahwa dengan berpuasa niscaya kita akan menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa? [*]

2016

Senin, 30 Mei 2016

Ruang Penyangkalan Boenga Ketjil

Ruang Penyangkalan Boenga Ketjil

Beberapa cangkir kopi terhampar di beberapa meja yang tersusun sedemikian rupa dan ada yang diletakkan di semacam dipan seukuran 2x1 meter. Beberapa penganan rebus yang hangat pun terhidang lalu lamat-lamat dingin oleh udara malam di tengah musim kemarau yang tak menentu kemaraunya. Selain itu, beraneka merek rokok mendesak di antara para undangan yang hadir, baik via medium konvensional maupun daring--meski ada satu dua yang tidak merokok. Semua bersepakat bahwa malam itu merupakan malam perjamuan, yang barangkali, agung.
Ada rangkaian cerita dibaca dalam remang lampu halaman. Keheningan berangsur-angsur menyusup dalam pikiran masing-masing dan, tentu saja, malam cerah yang sedikit berbintang. Kekhusukan--jika dapat dikatakan demikian--pun mampu hadir di ruang yang juga merupakan warung kopi itu. Seperti namanya, Boenga Ketjil, ia laksana kembang yang menguarkan aroma sedap-malam kendati tempat itu alit--meski sepenuhnya tidak dapat dikatakan demikian.
Sudah beberapa kali sang pemilik, Andhi Setyo Wibowo alias Cak Kepek, melakukan hajatan serupa, dan tetamu yang hadir pun berganti-ganti, termasuk si "bintang-tamu". Sebagaimana sebuah pertemuan, ia merupakan ajang silaturahmi, saling mengakrabkan diri, bersapa-tegur, berbincang perihal berbagai persoalan, dan tak ayal berdiskusi dan bertukar-tangkap gagasan meski tidak sedikit tidak menghasilkan solusi konkret, terutama soal sastra dan seni.
Kendati demikian, ruang-ruang perjumpaan semacam itu diperlukan untuk menampung-ruapkan persoalan yang bergelayut dalam pikiran dan batin masing-masing. Ia merupakan petak yang tidak terpisahkan dari penyaluran idea dan unek-unek individu ketika berhadapan dengan realitas yang tidak memungkinkan adanya perubahan pola-pikir dan pola-suasana di tempat serupa dan di sudut mana pun, sebab barangkali tengah terlelap dalam onani-gagasan dan onani-suasananya sendiri.
Gagasan-gagasan yang bertebaran itu membutuhkan wadah berbagi dan menumpahkan (kecuali jika memang sengaja dimasturbasikan). Sebagaimana air yang memerlukan penadah agar tak meluber, gagasan-gagasan pun demikian. Bahkan lebih mengalir daripada air.
Dan, konon, kehadiran R Giryadi malam itu seolah menghangatkan malam. Cerpen-cerpen yang dibacakannya dari buku terbarunya, Mengenang Kota Hilang, seperti mengingatkan diri bahwa perjumpaan memang tak mengenal jarak dan waktu. Kendati ada yang hilang dan ada yang tinggal. Perjumpaan, sejatinya, adalah melepas kerinduan akan perjumpaan itu sendiri. Menginsafi diri sebagai makhluk sosial yang kodrati melalui tatap-muka, tatap-rupa, tatap-suara, tatap-aroma; bukan sekadar bersua lewat media-sosial-online yang kini makin sulit menghadirkan diri untuk berhadap-hadapan sehingga mengaburkan jarak dan ruang pribadi.
Untuk itulah, jika tidak ada ruang-ruang bersastra dan berkesenian, gagasan-gagasan berpikir dan aksi-aksi panggung di ruang-sewa-serbaguna (sebagaimana pergelaran teater beberapa hari lalu) akan menjadi hambar bilamana pemerintah daerah dan dewan sastra atau kesenian--bila memang ada--menggagas ruang semacam gedung kesenian atau ruang dialog mewadahi kreatifitas-kreatifitas tersebut. Kantong-kantong kreatifitas, berkesenian maupun berkebudayaan, menjadi (salah satu) yang terpenting selain gerilya dari warung kopi ke warung lain.
Jika demikian, budaya bertatap-muka dan berdialog secara langsung tanpa tedeng aling-aling kian tergerus oleh dialog virtual ala Facebook, Twitter, Instagram, dan semacam itu, dan interaksi pun sedikit demi sedikit memudar bagai pakaian yang luntur warnanya--meski ruang sosial itu tergantikan dari nyata ke maya. Bukankah erosi kebudayaan juga demikian?
Gejala tersebut barangkali nampak tatkala di tahun 2010-2012 bermunculan kantong-kantong sastra (Jombang) yang tumbuh bagai jamur di musim penghujan. Mayoritas digagas oleh mahasiswa dan atau alumni perguruan tinggi yang, entah apa maksudnya, berbondong-bondong menunjukkan eksistensi dan keberadaannya. Tentu itu baik. Geliat berkreatifitas (dalam hal ini sastra, jika boleh dikatakan demikian) di Kota Santri menunjukkan bahwa kota ini mempunyai wadah semacam itu (kebetulan dewan kesenian juga terbentuk dan bekerja) dengan pertemuan-pertemuan rutinnya. Bahkan mereka sempat didokumentasikan dalam sebuah buku yang konon lengkap (sebut saja GubugLiat, Lembah Endhut Ireng, dsb., meski jauh sebelum itu telah lahir Lembah Pring).
Namun, ya namun, jamur-jamur yang tumbuh hanya mengenal musim, tidak mengenal bahwa medan dan jalan yang mesti dilalui begitu panjang-berliku-terjal. Sampai di situ, hingga beberapa tahun, tiada geliat komunitas-komunitas itu (kecuali di tahun 2013/2014?) sempat muncul Forum Sastra Jombang. Lantas entah kemana. Seakan kerja kreatif hanya bergantung suasana hati (mood) atau kelengangan waktu penggeraknya. Entahlah.
Kini, di tahun 2016, muncul Boenga Ketjil. Ruang dan wadah baru berkonsep warung kopi. Tentu dengan motif dan modus baru. Meski demikian, ada napas segar di tengah kegersangan berdialektika dan bertukar-tangkap gagasan di tengah kemarau kreatifitas. Nama selaSastra bak oksigen yang turut memberi kesegaran dalam keriuhan "Kuning-Kuning" yanga dijejalkan di hampir seluruh kota. Adakah yang mampu memberi warna lain? (Kita tunggu saja).
Oh. Barangkali saya nglindur. Dan memang. Niat menghadiri perjamuan itu hanya mimpi. Tetiba istri saya menyangkal krentek agung itu dan mengajak sambang ke karib yang tertimpa musibah di rumah sakit daerah. Bukankah menjenguk orang sakit merupakan salah satu kewajiban? Dan saya mesti melungsurkan keinginan itu meski saya tahu ruang silaturahmi tak cukup di situ. []

Kamis, 19 Mei 2016

Di Atas (Pe)Tipu(an) Masih Ada (Pe)Tipu(an): Repertoar "Para Penjudi"

Di Atas (Pe)Tipu(an) Masih Ada (Pe)Tipu(an): Repertoar "Para Penjudi"

Nikolai Vasilevich Gogol merupakan sastrawan Rusia berkebangsaan Ukraina. Beberapa karya dramanya yang terkenal--dan sering dipentaskan--adalah Revizor, yang lazim diterjemahkan Inspektur Jenderal. Inspektur Jenderal adalah karya fenomenal. Bahkan sejak kali pertama diadaptasi Usmar Ismail dalam film Tamu Agung (1955), lakon itu telah dimainkan oleh banyak kelompok teater di Indonesia.
Seperti halnya Inspektur Jenderal, Para Penjudi merupakan salah satu lakon satir namun memiliki unsur komedi. Komedi yang dimaksud tentu bukan komedi biasa tapi komedi yang mengandung ironi bahkan mencela diri sendiri. Naskah yang diterjemahkan oleh J Sunarya dan diadaptasi oleh Rachman Sabur dari judul The Gamblers inilah yang diangkat dan dipentaskan Komunitas Tombo Ati (KTA), Sabtu-Minggu, 7-8 Mei 2016, di Aula SMKN 1 Jombang lalu.

Alur cerita
Juan Pedro, penjudi ulung dari luar negeri, datang di Bali ingin merasakan atmosfir perjudian di Pulau Dewata. Kebetulan, ia bertemu dengan beberapa penjudi dari berbagai bangsa. Tobing, Nonya Meymey dari China, dan Raam Hotahot dari India. Ditemani Juki, sopir sekaligus asisten, Juan Pedro mengundang para penjudi itu sekaligus mengembangkan kemampuan dan memperkenalkan trik-trik barunya. Di sebuah bar hotel milik Madame Jolly, keempatnya berjudi dan sambil jalan melakukan konspirasi untuk mengeruk uang pengusaha asal Arab yang sedang berinvestasi di Bali, Wan Abab, dan anaknya, Wan Antum. Konon, mereka ingin menipu habis-habisan investor itu melalui permainan yang sudah mereka susun sedemikian rupa.
"Inilah fenomena mobilisasi perang. Senjata di tangan, dan moral kita yang punya perspektif!" Ujar Nona Meymey.
Singkat cerita, dipertemukanlah mereka dengan penghubung bisnis bernama Paimin guna melancarkan urusan investasi yang dimaksud. Katanya, "Beginilah Indonesia, Tuan. Untuk hal begini, dua minggu adalah bahasa Indonesia yang berarti dua bulan. Dan kalau dua bulan itu artinya sama dengan dua tahun." Pada akhirnya, Juan Pedro berakhir tidak seperti penipu, tetapi tertipu. Tertipu dengan ikut memainkan lelucon konyol yang tajam dan rumit pada dirinya sendiri.
"Gila! Ini hari yang gila dan luar biasa! Aku mengumpankan 1 miliar dan yang terpancing 2 miliar. Ini benar-benar gila! Inilah puncak prestasiku dalam berjudi dan menipu! Ya, gerak tipu niaga! Kalau aku belum tahu cara menipu, mereka tentu sudah menipuku lebih dulu," sesalnya mengakhiri.

Ludes
Direktur KTA, Imam Ghozali mengatakan, bahwa ini merupakan produksi yang ke-43. Hampir setiap tahun komunitas ini mementaskan repertoar dengan lakon dan gaya berbeda.
"Kami tidak menyangka, tiket seharga Rp15.000 untuk umum dan Rp12.000 untuk pelajar ludes menjelang H-7. Untuk itu, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya bagi para calon penonton yang tidak kebagian tiket atau bermaksud hendak memesan/membeli tiket pertunjukan kami. Dengan selesainya pertunjukan ini, kami keluarga kecil KTA mengucapkan banyak terima kasih kepada para penonton dan mengapresiasi pertunjukan kami. Mohon maaf atas segala kekurangan." Pungkasnya, sebagaimana yang di-publish di akun Facebook pribadinya.
Perlu diketahui, Komunitas Tombo Ati (KTA) lahir di Jombang tanggal 3 Agustus 1996. Didirikan oleh beberapa penggagas seni yang sebelumnya sudah malang melintang di dunia seni pertunjukan. KTA bersanggar di Jalan Dr. Wahiddin Sudirohusodo Gang IV RT. 25 RW. 04 Jombang. Kelompok ini senantiasa membuka tangan bagi siapa saja yang ingin bertukar-tangkap gagasan, guna mencari jalan keluar atas problema anak muda yang gelisah. Pada Oktober 1996, KTA mendapat kepercayaan mewakili Jawa Timur dalam Event Festival Teater Tingkat Nasional di Bandung dan mendapatkan penghargaan dari Pemerintah RI sebagai penyaji terbaik lakon Makam Bisu (sutradara Imam Ghozali AR). Beberapa repertoar juga pernah dipentaskan di dalam maupun luar kota, baik naskah-naskah dramawan dalam maupun luar negeri. Juga sempat mementaskan naskah anggota KTA sendiri.
Memang, persoalan tipu-menipu sudah menjadi tabiat bangsa. Seorang wakil rakyat menipu rakyat yang telah memilihnya, dengan cara korupsi. Seorang pegawai negeri menipu keluarganya dan mempunyai pasangan lain di luar sana. Dan banyak tipu-menipu lain. Kritik sosial menjadi titik pusat naskah karya Nikolai Gogol ini dengan cara diaktualisasikan melalui media perjudian. Perspektif yang dibangun pun tidak melulu serius, ada beberapa scene yang menghadirkan komedi (parodi?) yang menghibur penonton. Di bawah arahan sutradara Fandi Ahmad, lakon Para Penjudi diolah sedemikian rupa dengan harapan penonton tidak bosan dan memperoleh nilai-nilai kontemplatif dalam pertunjukan ini.
Hampir di setiap sudut tata panggung penonton disuguhi latar Bali yang kental. Dekorasi dan propertinya pun digarap sedetil mungkin demi memperoleh intensifitas suasana dan memperkuat karakter peran. Barangkali inilah yang menjadi kekuatan dalam setiap pertunjukan KTA yang membuat masyarakat dan penonton setianya senantiasa menantikan pementasan-pementasan selanjutnya.
Atau, barangkali, penonton kini lebih menikmati tontonan (rakyat) alternatif tinimbang televisi atau YouTube atau sejenisnya. Bisa jadi pula--teater atau seni pertunjukan serupa--merupakan medium penyangkalan atas kehadiran medium-medium instan yang hadir belakangan. Bahwa kejenuhan manusia sebagai penonton juga merupakan imbas dari digitalisasi produk-produk yang mereka ciptakan sendiri sehingga abai ada yang lebih manusiawi dan tentu saja menghibur diri; dari hal-hal fasik.
Di atas langit masih ada langit. Di atas penipu, penipuan, dan tipuan masih ada yang lebih. Sehebat apapun seseorang dan model-trik yant dipergunakan, tentu ada saja yang bisa mengalahkan. Mungkin demikian salah satu pesan dalam lakon ini. Selain itu, dalam repertoar ini pun menyiratkan bahwa perjudian memberikan dampak pemiskinan pada masyarakat, dan pemiskinan itu bukan sekadar materi melainkan moral (mental) bagi pelakunya sendiri. Ia bisa menghalalkan segala cara dan melupakan segala daya, meski harus menipu lawan, menipu kawan: menipu diri sendiri.
Bukankah dalam agama tegas melarang perbuatan itu? [*]

Minggu, 07 Februari 2016

Sesudah Kesialan akan Datang Keberuntungan

Sesudah Kesialan akan Datang Keberuntungan
(Resensi atas buku "Sundari Keranjingan Puisi dan Cerita-cerita Lainnya" karya Gunawan Tri Atmodjo)

Sebuah cerita yang baik haruslah memenuhi komposisi yang tepat, baik secara intrinsik maupun sepaket unsur lain yang membuat cerita tersebut mempunyai dunia rekaannya sendiri. Gunawan Tri Atmodjo menghadirkan cerita-cerita tersebut dalam kumpulan cerpen berjudul Sundari Keranjingan Puisi dan Cerita-cerita Lainnya ini. Cerita-cerita dalam buku ini lebih mengedepankan kekuatan alur, narasi apik, dan ending cerita yang menarik.
Memang ada hal lain yang mendukung penjelasan itu. Namun tak bisa dipungkiri bahwa aspek kesederhanaan juga mempunyai peran penting dalam perwujudan sebuah cerita. Kesederhanan yang dimaksud di sini adalah soal tema yang dipilih dan bahasa yang digunakan dalam pembentukan cerita tersebut.
Untuk soal pertama, dapat disimak pada cerita Linda dan Lukman. Sebuah hal sederhana namun berkonsekuensi besar, yakni janji. Bermula dari sebuah SMS nyasar menjelang ulang tahun tokoh Linda: “Tapi Linda telah berjanji pada dirinya sendiri dan pantang baginya untuk mengingkari. Maka dia pun menghubungi momor pengirim sms itu meski dia tahu bahwa itu adalah pesan penipuan. Barangkali ini adalah tindakan bodoh, tapi akan lebih celaka lagi jika ia tak menepati janji sederhana itu.” Kita dapat memahami kesederhanaan bahasanya, namun berkekuatan pada alur dan amanat ceritanya.
Sebagian besar cerita dalam buku ini belum pernah dipublikasikan di media cetak. Gunawan tentu memiliki alasan sendiri mengapa demikian. Hal ini tentu bukan tanpa pretensi apapun. Sebagaimana trubadur, cerita-cerita dalam buku ini juga semata-mata sebagai hiburan, penghapus duka-lara, pembikin pembaca tersenyum bahkan tertawa sendiri; yang disampaikan dengan cinta. Ada pelajaran tersembunyi dalam tiap kelakar cerita yang memantik ruang-pikir pembaca sehingga menyulutkan inspirasi. Tidak sampai di situ, Gunawan juga menyelipkan hal-hal sederhana yang biasa dijumpai dalam keseharian bahkan tak pernah diduga. Simak cerpen berjudul Doraemon dan Korban Pemilu, Haji Inul dan Ayat Bajakan, atau Catur dan Beberapa Hal yang Sebaiknya Kau Ketahui.
Sebagian besar dari kita tentu mengenal Doraemon. Tokoh rekaan Fujiko F Fujio asal Jepang ini dikenal hampir semua anak di Indonesia. Dalam cerpen Doraemon dan Korban Pemilu, tokoh “aku” begitu sedih ketika film kartun ini akan segera tamat sedangkan ia belum tahu bagaimana sosok ayah Giant dan Shizuka. Sangat sepele! Akan tetapi, akibat fanatisme berlebihan, menjadi sangat tidak sepele ketika tokoh aku dengan susah-payah bekerja keras dan menggadaikan sertifikat rumah keluarganya untuk biaya ke Jepang, negara dimana anime itu diciptakan. Dan ia berhasil menemukan jawabannya (yang tentu saja dirahasiakan). Berbeda dengan fanatisme para calon anggota dewan yang gagal menjadi anggota dewan dan menjadi gila usai pemilu.
Cerita-cerita yang menarik dan menyentuh lubuk dasar benak pembaca adalah cerita-cerita yang barangkali saat ini diperlukan. Setali dengan endorsement Joko Pinurbo bahwa sastra yang inspiratif adalah sastra yang antara lain mampu mengubah cara pandang terhadap sesuatu, misalnya hal pelik yang disampaikan dengan cara bersahaja. Atau catatan M Faizi, bahwa cerita-cerita ini adalah cerita-cerita yang biasa dan santai, namun serius dalam berkelakar. Dan, seperti itulah adanya cerita-cerita yang termaktub dalam buku terbaru Gunawan ini.
Sebagian besar cerita dalam buku ini merupakan cerita-cerita yang biasa, cerita-cerita yang kita temui sehari-hari, dan tentu saja santai. Tak ada gaya bahasa neko-neko atau kata-kata yang njlimet. Semua tampak bersahaja dan apa adanya. Namun, di balik semua itu, ada daya inspiratif yang menyentuh lubuk dasar benak pembaca dan membuat kita, tanpa sadar, menganggukkan kepala, atau sekadar mengiyakan dalam hati. Sederhana dan kocak.
Nilai-nilai luhur berupa ikhtiar dan doa dalam menjalani laku hidup di dunia juga coba ditanamkan Gunawan dalam beberapa ceritanya. Meski tindakan yang dilakukan tokoh-tokohnya dianggap konyol dan tabu, namun bilamana demi kebaikan dan kebahagiaan orang lain, maka hal itu dianggap sah-sah saja. Tidak menjadi soal.
Coba simak cerpen berjudul Menantu Teladan. Diceritakan bahwa seorang menantu yang dulunya seorang petaruh dan setelah menikah meninggalkan pekerjaannya itu dan menjadi makelar motor. Konflik dimulai ketika si menantu harus membayar biaya perawatan rumah sakit yang dijalani mertuanya. Lantaran semua barang berharga di rumah sudah disekolahkan alias digadaikan, maka satu-satunya yang tersisa adalah sertifikat rumah. Berawal dari rayuan teman-temannya di warung kopi, jiwa si menantu yang dulunya pejudi muncul. Uang hasil menggadaikan sertifikat itu dipakainya untuk taruhan bola. Dengan harapan tentu saja bisa menang dan dapat mengembalikan pinjaman itu tanpa bekerja muluk-muluk. Dan tampaknya Gunawan ingin menegaskan bahwa bila ada niat baik, sekecil zarah pun, maka apapun tindakannya dianggap baik pula. Si menantu pun menang dan dapat mengambil sertifikat itu keesokan harinya seusai ia melunasi semua biaya mertuanya. Masalah yang pelik pun tuntas berkat doa dan keberuntungan. Setidaknya nama baikku masih terjaga, baik sebagai seorang suami yang mengayomi maupun sebagai menantu yang patut dibanggakan. (hal. 67). Begitulah premis yang ingin Gunawan tegaskan.
Pun dengan cerita lain, yang menawarkan pemecahan masalah dengan doa dan keberuntungan. Simak saja cerita 9 Koi, Penghitung Keberuntungan, atau Penjual Kantuk. Ada kekuatan doa dari tokoh utamanya dan keberuntungan yang akhirnya mengikuti. Dua hal yang sederhana namun sering luput dari kehidupan yang kian hedon. Dua hal yang senantiasa diperlukan di tengah kehidupan yang kian tak masuk akal. Bagaimanapun, sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Sesudah kesialan akan datang keberuntungan.
Gunawan tampak memperlakukan ceritanya pada pandangan Horatius: dulce et utile. Ada unsur hiburan sekaligus faedah dalam ke-16 cerpen ini. Tentu hal tersebut tak perlu dinafikan, sebab, bagaimanapun, sebuah karya sastra (cerpen dalam hal ini) harus mampu menjadi hiburan sekaligus bermanfaat bagi pembacanya. Sekecil apapun itu. Bukan berarti lantas dengan begitu sebuah cerita menggurui pembaca dan abai akan sikap kritis pembaca. Sebagaimana dalam cerpen Untuk Siapa Kau Berdoa, Ana?. Ada pesan relijius di sana, bahwa sepayah apapun kita menjalani hidup, berdoa adalah keniscayaan sebagai makhluk bertuhan, meski doa yang rutin dimunajatkan tak pernah langsung kita rasakan mustajabnya.
Simak pula dalam cerpen 9 Koi: “Dengan kata lain, selain adu kualitas tulisan juga adu kuat doa antarpengirim tulisan. Perkara doa ini dia hanya mampu melafalkannya setulus-tulusnya dan menyerahkan pengabulannya kepada kuasa Tuhan Yang Maha Esa.” (hal. 11).
Meskipun dalam hidup sudah barang tentu terdapat kesialan-kesialan yang tidak diinginkan dan tak pernah diduga muasalnya. Setidaknya, sebagai pembaca, kita diajak untuk senantiasa percaya bahwa ada keberuntungan tersembunyi di balik itu. Bukankah setelah kesukaran akan datang kemudahan: setelah kesialan akan datang keberuntungan? Konsep berpikir positif inilah yang coba ditanamkan Gunawan dalam buku ini.
Kesederhanaan tema bukan berarti menyederhanakan bentuk cerita. Dengan kesederhanaan ada hal-hal mesti tersampaikan dan membuka gaya gedor pikiran dan nurani pembaca, sehingga cakrawala pengetahuan semakin luas. Juga kebaikan. Dan sampai di sini, Gunawan telah berhasil dengan hal itu. (*)


Data Buku

Judul buku : Sundari Keranjingan Puisi dan Cerita-cerita Lainnya

Pengarang : Gunawan Tri Atmodjo

Penerbit : Marjin Kiri

Cetakan : Pertama, Agustus 2015

Tebal : viii + 132 hlm

ISBN : 978-979-1260-47-3

Luka dan Ikhtiar Memperbaiki Nasib

Luka dan Ikhtiar Memperbaiki Nasib

(Resensi atas novel "Tanjung Luka" karya Benny Arnas)

Novel terbaru Benny Arnas bertajuk Tanjung Luka ini sejatinya merupakan cerita bersambung yang pernah dimuat di harian Sumatra Ekspres (Sumeks) dalam kurun tahun 2014 –sebagaimana pengakuan Benny dalam catatan akhir buku tersebut. Novel ini (masih) menyuguhkan latar lokalitas di mana pengarangnya berasal beserta beragam tokoh dan kecamuk konflik yang berkelindan di dalamnya. Dan memang, sesungguhnya suatu karya yang ditulis, apapun itu, tentunya harus merupakan sesuatu yang kita kenali dan kuasai bahkan dekat dengan kita, supaya dapat mengena di hati pembaca.
Novel Tanjung Luka bercerita tentang keluarga yang terdiri dari Barkumkum, Markonet, dan Tanjungluka. Sebuah keluarga kecil yang dianggap sebagai “kutukan” bagi warga kampung Ulakkungkung. Mereka menyebutnya begitu sebab sejak-mula Barkumkum dan Markonet sudah membawa kutukan sedari-belum menikah. Barkumkum adalah anak-tunggal yang sebatang-kara, yatim-piatu, dan hanya seorang garin masjid dengan upah tak-menentu, meski sebenarnya ia memiliki warisan berupa kebun peninggalan orangtuanya. Setali-tiga-uang dengan Barkumkum, Markonet pun juga merupakan anak-tunggal-kolokan yang sejak belia gemar mengendarai sepeda unta (sepeda yang mempunyai palang sejajar di antara roda depan dan roda belakang) hingga sebuah kecelakaan terjadi dan membuat darah-perawannya pecah.
Tanjungluka yang merupakan anak pasangan “ganjil” itu pun tak-luput dari “kutukan” yang dibenamkan oleh warga kampung. Kelahirannya ditandai dengan hujan lebat tak kepalang, petir menyambar-nyambar, angin mengumpar-ngumpar. Suara deru kabel listrik yang bertabrakan dan riap kanopi pohon, meredam suara erangan Markonet yang terus mengelus-elus perutnya yang hendak mengeluarkan isinya (hal. 30).
Ibunya, Markonet, melahirkannya di hutan sebelum sempat sampai di rumah dukun beranak bernama Mak Jakun (sebab sebelumnya tiada satu bidan pun di kampungnya yang mau menerima Markonet; selain karena ayahnya, Barkumkum, tidak punya uang); bersisihan dengan babi-babi betina yang juga melahirkan bayi-bayi babi (hal. 31-32).
Meski begitu, Barkumkum tidak mau menyebut semua hal itu sebagai “kutukan”. Ada sikap optimisme bernama iman yang menjadi kekuatan Barkumkum menjalani kehidupan sehari-hari: sebagai suami Markonet, sebagai ayah Tanjungluka, dan sebagai garin masjid untuk menghapus “kutukan” itu. “Bila kutukan memang ada, biar Tuhan yang menyelesaikannya. Aku takkan berhenti beribadah dan berdoa untuk mengharapkan keajaiban. Kau tahu, tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan.” (hal. 30).
Sikap tersebut juga tercermin dalam dialog-dialog Barkumkum dengan Tanjungluka berikut: “Siang-malam aku beribadah di masjid. Apakah kau tak menganggapnya sebagai langkah paling baik untuk kemaslahatan keluarga kita?” (hal. 222).
“Tak harus kau hirau kata-kata orang. Di mana- mana, orang beribadah ingin masuk surga. Tapi apa salah kalau aku menggandengnya dengan tujuan lain –untuk menghapus kutukan, misalnya?” (hal. 222).
“Tak ada urusan dengan Tuhan. Kalau menyalahkan Tuhan, aku takkan beribadah untuk meminta-Nya menghapus kutukan itu!” (hal. 223).
Bukankah selayaknya seperti itu sikap seorang yang beriman meski di dalam hatinya iman itu hanya sebesar zarrah dan ada luka yang menganga bercampur nanah dan darah?

Konflik
Konflik itu muncul ketika Mami Berong terbunuh. Cerita tentang Markonet yang mencuri uang satu peti milik mucikari itu dan alibi ibunya itu yang mengatakan bahwa ia bukan pembunuh si rentenir semakin membuat Tanjungluka bingung, siapakah pelaku sebenarnya, sehingga Barkumkum ditetapkan sebagai tersangka.
Kejadian itu adalah mula bagaimana seluruh nyali Tanjungluka terkumpul. Ada dorongan yang kuat yang tiba-tiba merasuki Tanjungluka untuk membebaskan Barkumkum dari jerat hukuman atas pembunuhan itu –selain juga menyembuhkan sakit fisik dan mental ayahnya itu, sembari menunggu kebenaran itu terungkap melalui jasa pengacara Andrea Lee yang ia sewa. Ia yakin bahwa semua yang ia lakukan itu akan berwujud dan menghapus “kutukan” yang mendera keluarganya selama ini. Itulah janji yang diucapkannya.
Dalam novel ini, Benny menyuguhkan permainan intrik yang tampaknya terpengaruh dengan konsep film-film Hollywood; yang menyuguhkan misteri di pembuka cerita, dengan konflik yang berkecamuk di tengah cerita, dan ending cerita yang mengejutkan dan tidak mudah ditebak. “Permainan” cerita semacam ini tentu menyiratkan seolah-olah pembaca sedang menonton sebuah film yang apik. Hal tersebut dapat disimak melalui bagaimana novel ini dibagi menjadi 6 bab, yang seolah-olah tiap babnya membentuk plot tersendiri namun saling berangkai dengan bab yang lain. Tiap bab seperti sebuah babak atau episode dalam sebuah film. Bab 1: Kutukan, merupakan pembuka cerita. Bab 2: Pembunuhan, merupakan konflik cerita bermula. Bab 3: Penjara, adalah masa permenungan tokoh utama. Bab 4: Pengacara, merupakan usaha tokoh utama meredam konflik. Bab 5: Pelarian, merupakan upaya penemuan jawaban atas konflik tokoh utama. Dan bab 6: Permulaan, adalah jawaban atas semua yang dialami tokoh utama.

Pesan
Dalam banyak situasi, tentu terdapat palajaran berharga yang bisa dipetik. Tak terkecuali cerita tentang Tanjungluka dan keluarganya ini. Dalam kehidupan, ikhtiar yang kita lakukan adakalanya berhasil dan tidak sedikit yang gagal. Ada yang terwujud ada yang sia-sia. Barangkali pun dengan usaha Tanjungluka, barangkali tergambar seperti itu. Ya, ia berhasil menemukan Markonet, ibunya, yang ia anggap sebagai saksi kunci pumbunuhan Mami Berong, juga nenek Karimah –walau selanjutnya ia bunuh. Namun di sisi lain, ia gagal menghapus “kutukan” yang telah lama dilekatkan warga kampungnya, bahkan sedari orangtuanya masih muda, sebab pada akhirnya ia menjadi pembunuh orang-orang di sekitarnya, termasuk Barkumkum, ayahnya sendiri.
Tanjungluka menyadari bahwa apa-apa yang selama ini ia perjuangkan dan usahakan hanya membawa kesia-siaan belaka. Usaha menyembuhkan Barkumkum, ayahnya, bukan malah memberikan titik terang pencarian kebenaran itu malah diam-diam menipunya. Andrea Lee, pengacara yang ia sewa dengan biaya selangit pun tidak lebih dari penipu yang hanya mengeruk uang Tanjungluka atas nama profesi. Pun dengan Markonet, ibunya, malah memberinya sejuta pertanyaan lagi sebelum ia peroleh jawaban atas persoalan-persoalan terdahulu. Menurutnya, semua tiada guna: … hanya menghabiskan waktu, tenaga, pikiran serta ketenangan demi memperjuangkan sesuatu yang tidak mestinya diperjuangkan, yang tidak layak diperjuangkan. Dan ia tak lagi berani menyebutnya kutukan. Dalam hati, sekalipun (hal. 283).

Simpulan
Buku kedelapan sepanjang karier kepenulisan Benny ini menyuguhkan sesuatu yang menarik. Sebab, jika diteliti lebih lanjut, novel ini seolah-olah kelanjutan dari cerpen “Dilarang Mencintai Gadis Berkereta Unta” yang termaktub dalam buku kumcernya bertajuk Bulan Celurit Api (Koekoesan, 2010). Sebagai pembaca tentu kita bertanya-tanya, apakah tokoh Siti dalam cerpen tersebut memiliki nama panjang Siti Markonet, yang juga sama-sama merupakan gadis yang mengendarai sepeda unta? Ataukah hal ini hanya kebetulan semata? Sampai di sini pembaca dapat mereka-reka sendiri ihwal itu.
Sebagaimana karya-karya sebelumnya, Benny senantiasa bermain-main dengan bahasa, mengolahnya menjadi berirama, seraya tidak meracaukan alur cerita. Tentu sebagai orang Melayu, Benny juga pandai membuat perumpamaan dan bahasa-berirama yang berpadu dengan alur cerita, yang menahbiskan posisinya sebagai pengarang yang gemar membaur dan berada dalam pergaulan tersebut. “Hei kalian pasangan terkutuk, tinggallah di sini, hiduplah di sini, dan meregang-nyawalah di sini. Kami akan menjadi penonton paling setia!” (hal. 11)
Selain itu, bagi pembaca yang menyukai cerita yang romantis dan berbunga-bunga, bersiap-siaplah kecewa, sebab dalam novel ini hampir tidak ada scene semacam itu –kecuali kisah percintaan Tanjungluka dan Maesaroh di dapur RSJ (hal. 166-167). Barangkali hal itu bisa disebut kekurangan dalam novel ini dan seolah mengisyaratkan bahwa hal itu hanya sekadar tempelan cerita.
Namun, terlepas dari semua itu, yang tidak kalah penting adalah bagaimana Benny menunjukkan kepiawaiannya dalam mengolah cerita yang kuat, bak cerita dalam film-film Hollywood yang menunjukkan betapa kekuatan sebuah cerita juga ditentukan oleh pengaturan pola dialog antar-tokoh dan ritme konflik yang saling berkait serta akhir cerita yang mengejutkan berikut amanat yang disampaikan. (*)


Data Buku

Judul buku : Tanjung Luka

Pengarang : Benny Arnas

Cetakan : Pertama, Agustus 2015

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 978-602-03-1894-3